
Persaingan Voli Antarprovinsi Bernuansa Politik
Persaingan Voli Antarprovinsi Bernuansa Politik. Kejuaraan voli antarprovinsi di PON XXI Aceh-Sumut 2025 dan Pra-PON sebelumnya ternyata tak hanya soal prestasi olahraga, tapi juga sarat nuansa politik. Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah saling sikut keras, bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan lewat anggaran, fasilitas, dan dukungan pejabat daerah. Persaingan ini makin panas karena voli indoor dan pasir jadi cabang penentu medali terbanyak, sekaligus ajang pembuktian siapa paling dominan di pentas nasional. BERITA BOLA
Dominasi Provinsi “Besaran” dan Anggaran Jumbo: Persaingan Voli Antarprovinsi Bernuansa Politik
Jawa Barat dan DKI Jakarta selalu jadi yang terdepan berkat anggaran pemprov yang tak main-main. Pemusatan latihan digelar berbulan-bulan dengan pemain pro liga diajak bergabung, pelatih level nasional diboyong, bahkan fasilitas setara klub profesional. Sementara provinsi kecil seperti Papua Barat atau Maluku harus puas latihan ala kadarnya, sering kali pinjam pemain dari Jawa hanya untuk lengkapi kuota. Hasilnya, semifinal hampir selalu didominasi empat besar: Jabar, Jatim, Jateng, dan Jakarta. Banyak yang bilang, medali voli PON sekarang lebih ditentukan kekuatan APBD ketimbang pembinaan akar rumput.
Manuver Politik di Balik Seleksi Pemain: Persaingan Voli Antarprovinsi Bernuansa Politik
Persaingan makin kental nuansa politik saat seleksi tim. Beberapa provinsi “pinjam” pemain bintang dari provinsi lain dengan imbalan beasiswa, pekerjaan di instansi daerah, atau bonus besar jika juara. Ada kasus atlet top Jawa Tengah yang tiba-tiba pindah KTP ke DKI Jakarta hanya demi ikut PON, langsung picu protes dari pengprov asalnya. Pejabat tinggi daerah juga tak segan turun gunung datangi latihan, janjikan bonus puluhan hingga ratusan juta kalau rebut emas. Voli yang seharusnya jadi ajang sportivitas malah jadi alat politik prestise antargubernur.
Dampak pada Pembinaan dan Talenta Muda
Nuansa politik ini punya sisi gelap: talenta muda dari daerah sering terabaikan karena kuota tim diisi pemain senior atau “impor”. Anak-anak 15-18 tahun yang berprestasi di Kejurnas remaja jarang dapat kesempatan, kalah bersaing dengan atlet pro yang dibayar mahal. Akibatnya, regenerasi voli nasional terhambat. Beberapa pengprov kecil bahkan lebih pilih tak ikut voli indoor dan fokus ke voli pasir yang lebih murah, meski peluang medali kecil. Federasi voli pusat sampai harus turun tangan batasi jumlah pemain lintas provinsi, tapi aturan itu sering dilonggarkan demi “kepentingan bigger picture”.
Kesimpulan
Persaingan voli antarprovinsi di level PON memang sudah jadi cermin politik daerah di Indonesia. Siapa punya anggaran dan koneksi lebih kuat, dialah yang bawa pulang emas. Meski bikin kompetisi makin seru dan level permainan naik, nuansa politik ini perlahan bunuh pembinaan voli di daerah kecil dan regenerasi atlet. Kalau tak segera dibenahi lewat aturan ketat soal domisili dan anggaran, voli Indonesia bakal terus didominasi segelintir provinsi kaya, sementara talenta dari pelosok hanya jadi penonton. Voli seharusnya menyatukan, bukan memecah belah karena politik daerah.
You may also like
LINK ALTERNATIF:
Leave a Reply